Hmmm..ya ya ya. Lama – lama saya jenuh dengan semua ini. Kenapa ya? Sepertinya benar – benar perlu hal yang berbeda. Saya juga bosan sa**t. hahaha. ah pernyataan apa pula itu. (doh) Ku pikir perasaan yang ‘itu’ sudah lama pergi, hilang, dan mati. Ternyata tidak. Well, saya masih manuisa biasa ternyata, bukan wonderwomen πŸ™‚ Bukan manusia yang bisa selalu kuat. Tapi ngaku deh saya manusia munafik! Bersembunyi dibalik topeng untuk nyembunyiin sakit. Tapi gak semua tawaku palsu ya. Banyak yang tulus kok πŸ™‚ Ini pembicaraan sebenernya mau dibawa ke mana ya? Kok semacam geje.

Sebuah rasa entah berasal dari mana. Hadir dan menyapa. Meski berusaha sekuat tenaga untuk menghalau. Tapi tak akan mampu. Cinta? Bukan. Bukan cinta. Saya sedang muak dengan cinta. Aih, tapi cinta itu karuniaNya. Terlalu picik kalau cinta dijadikan kambing hitam atas rasa yang tak mengenakkan ini. Ini salah manusia itu sendiri yang tak mampu menjaga ego cinta. hahaha. Bingung saat ini harus tertawa, menangis, atau bahkan menertawakan tangis. KEBODOHAN INI HARUS SEGERA DIAKHIRI SEBELUM AKU BENAR – BENAR MATI! AKU HARUS BELAJAR TERSENYUM SEBELUM MEMBUNUH RASA TAKUTKU! Belajar berjalan dari awal lagi. Perlahan menelusuri jejak. Mencari di mana letak kesalahan hingga terjadi hal yang begitu memuakkan. Kali ini aku takkan menyalahkan siapapun. Cukup aku. Saat aku kembali, aku yakin semua juga akan kembali baik (i hope). Cukup tahu saja, hati dan raga ini terlalu mengharapkan mu, hingga kagum menjadi duri.

Ketidak Warasan Padaku
membuat bayangmu slalu ada
menentramkan malamku
mendamaikan tidurku
Ketidak Warasan Padaku
membuat tidurku lebih tenang
aku takkan sadari
bahwa kau tak lagi disini

Aku mulai nyaman..
berbicara pada dinding kamar
aku takkan tenang..
saat sehatku datang
Ketidak Warasan Padaku
slimut tebal hati rapuhku
berkah atau kutukan
namamu yang kusebut

akulah pendosa yang menjalani hukuman menunggu kebebasan
kaulah pemendam mimpi yang kan menghantuiku seumur hidupku

Advertisements